Google Search Engine

Senin, 18 Oktober 2010

Belajar Ikhlas dari Buah Kelapa

Sedikit cerita yang didapat dari Pengajian Silaturrahim Halal Bi Halal Muhammadiyah PCM Genteng Ahad 26 September 2010 yang disampaikan oleh Bpk. dr. Agus Taufiqurrohman yang sekarang denger2 dipilih menjadi ketua PWM Yogyakarta.

(Edited Version)

Ikhlas itu memang sangat mudah diucapkan, tapi sangat sulit untuk dilaksanakan.

Untuk itu patut kiranya kita lihat 2 buah yang sering kita konsumsi, Kepala dan Mangga,

untuk pertama kita lihat dulu buah Mangga, dari saat memetik sampai menjadi sebuah hidangan.

Mangga adalah buah yg mudah rusak jika kita perlakukan dengan tidak hati-hati, saat kita memetik mangga, kita petik pelan-pelan trus kita masukan keranjang atau kita oper ke bawah, dan yg bawah menerima buah dengan hati-hati, soalnya klo jatuh wah... pecah dah mangga nya, gak bisa dimakan...

setelah dipetik, dikupas pelan-pelan trus dicuci bersih, trus dibelah pakai pisau pelan-pelan, dibuat jus atau puding, dan dimakan....

Kalau kita ditanya, "Sedang makan apa ?"; "Sedang makan jus/puding mangga."

dalam setiap hasil yg dihidangkan mesti nama buah mangga selalu disebut, jus mangga, puding mangga, dsb. berbeda jauh dengan kepala (yg udah tua tentunya, bukan kelamud/kelapa muda yg dibuat es...)

Coba kita perhatikan orang memetik buah kelapa, dia naik ke pohon kelapa, memetik buah kelapa tidak sehati-hati buah mangga, kita harus menggoyang-goyang dan memutar-mutar tangkai buah untuk memetik kelapa (yaahh.. pokoknya cara kasar lah...)

setelah dipetik, dijatuhkan dari ketinggian beberapa meter.. (ada pohon kelapa yg tinggiiiii banget...)

adakah yg menerima buah kelapa di bawah seperti menerima buah mangga ? dibiarkan aja buah kelapa itu jatuh menimpa tanah...

hanya orang yg dah bosen idup aja yg mau nangkep tuh buah kelapa yg dijatuhin dari atas pohonnya...

Setelah itu, dikupas, pake' pisaukah ? hati-hatikah ? ternyata tidak, klo pake' pisau kapan selesainya ?????Siapin linggis, atau apa lah, kemudian dikupas kulit luarnya dengan kasarnya, habis itu belum selesai penderitaan buah kelapa, masih dipecah lagi tuh buah, abis itu dikupas lagi (kasar lagi..) kulit kerasnya, nah.. abis itu buah kelapa diparut sampai kecil2...

Habis diparut selesaikah ? ternyata belum, kelapa itu masih diperas-peras, sampai habis sarinya.. sudah itu ampasnya dibuang, atao dipakai untuk pakan ternak.

Setelah itu santannya dibuat masak, berbagai macam sayur.... Ada sayur lodeh, opor ayam, dsb.

Jarang orang bila ditanya "Buat sayur apa bu ??" akan menjawab Sayur Kelapa, bahkan ndak ada deh sepertinya..

nah.. Ikhlas, itulah yg dimiliki buah kelapa

Apa pernah buah kelapa protes klo dia tidak disebut pada apa yg kita buat, sedangkan kita sudah memperlakukan buah kelapa dengan kasar ? Kelapa akan tetap memberikan santan yg kita perlukan untuk membuat sayur, beda dengan buah mangga, jika kita perlakukan kasar seperti buah kelapa, apa yg terjadi ?? buah mangga yg sudah tua dan matang akan hancur sebelum menjadi hidangan yg kita inginkan.

Itulah, kelapa selalu akan memberikan apa yg kita inginkan yaitu santan meski sudah kita perlakukan kasar untuk mendapatkan santan itu.

Sebagai contoh untuk kita semua, bila kita sudah melakukan sesuatu secara All Out atau smua kemampuan kita sudah kita keluarkan untuk suatu kesuksesan, baik itu sebuah acara, kesuksesan seseorang, lembaga atau yg lain, dan pada saatnya sudah mendapat kesuksesan yg diinginkan, ternyata nama kita tidak disebut... maka tirulah sifat BUAH KELAPA. IKHLAS.... Itulah seharusnya orang Muhammadiyah berperilaku.


Semoga bermanfaat.

Best Regards

Agus Supriyanto

(^_^)

1 komentar:

Silahkan komentari artikel ini ...